Selamat Datang di Etalase Batik Khas Kediri
"Batik ... Selembar kain yang kedua sisinya harus identik dan sama indahnya, karena dua sisi batik adalah satu kesatuan yang bila salah satu tak tampak maka namanya bukan lagi batik namun hanyalah kain bermotif saja... Filosofi itulah yang memberi inspirasi bahwa manusia hidup harus mengindahkan kedua sisi esensinya yaitu jiwa dan raga, dimana keduanya merupakan sebuah kesatuan yang tak dapat terpisahkan..." – @tiwwiDy Batik Kediri

Promote Batik Typical Kediri Through Competition Model

Batik is the heritage from ancestral culture which has become a strong tradition of Indonesian society, kind of our pride that should be a momentum to be more love, preserve and market batik until overseas.

The Government in Kediri Regency on the 1209th anniversary celebration of Kediri Regency has held “Batik Market and 2013 Batik Model Competition” in the basement of Simpang Lima Gumul, Saturday (23/3) which followed by hundred participants from Kediri Regency and other regions.

The event of 2013 Batik Market which started in 23 until 29 March 2013 in Kediri Regency is need to be appreciated as the real attempt which has purposed to develop the love of nation product, and develop the youth love to the batik, and encourages the batik craftsmen to keep work and develop their effort accordance with the demands of the age because batik is the art of Indonesian Nation which needed by other Countries.

The attempt of batik preservation must be done by all stakeholders to make batik more enthused in Indonesian society and able to ensure that batik stay maintained all the time in Kediri Regency. They are still a lot of batik craftsmen who keep stand on the batik process through hand scratch they are who all this time continue to preserve the written batik existence in the middle of printing batik increasing.

Khas KediriKhas Kediri

Sekar, the beautiful, active and cute is one of photogenic participants in the category of age A kindergarten – Elementary School first grade, she really happy as the winner of the best photogenic, she said that she want to be a doctor so she able to inject her father.
H6CAHJ6PPHK5
KAIN TENUN KAOS DISTRO KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Batik Zeolit, Hasil Kolaborasi Desain dan Sains

Etalase Batik Kediri
Batik merupakan salah satu warisan budaya bangsa dengan ciri khas tiap daerah di Nusantara yang tergambar dalam tiap polanya. Kini, pengembangan batik bahkan sudah memasuki ke ranah kolaborasi antara sains dan teknologi.

Seperti yang dilakukan Tim Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) yang beranggotakan Alvanov Zpalanzani, Yan Yan Sunarya, Rino R Mukti, Veinardi Suendo, Dian Widiawati, Chandra Tresnadi, dan Fajar Ciptandi. Mereka berhasil menciptakan batik dengan terapan struktur molekuler Zeolit MFI dan FAU.

Riset dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) ITB itu sekaligus merupakan bentuk eksperimen dari wacana yang dikembangkan antara peneliti batik dan peneliti zeolit. Kedua pihak tersebut berencana mengembangkan batik dengan basis sitem dan modul kristalisasi mineral zeoli sehingga diharapkan penelitian itu mampu memperkaya produk ekonomi kreatif Indonesia.

Batik Zeolit ini merupakan kajian aplikasi teknologi pembuatan komposisi desain batik yang memanfaatkan diversifikasi ragam varian visualisasi molekuler. Apalagi pasca dinobatkannya batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia oleh UNESCO pada 2009. Hal itu sekaligus menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat melestarikan dan mengembangkan batik Indonesia.

Eksplorasi batik menggunakan teknik zeolit sebenarnya bukan hal yang asing. Sebab, pernah terdapat eksplorasi permainan elemen visual dari ikon budaya populer, seperti Batik Cimahi dan Batik Betawi. Terakhir, adalah Batik Fractal yang memanfaatkan sains untuk mengembangkan sistem penduplikasian motif dengan teknologi digital dan perhitungan matematis yang rumit.

“Kemiripan proses produksi zeolit dengan batik mendasari pemikiran kolaborasi pembatikan kontemporer yang tidak hanya berbasis perhitungan seperti halnya Batik Fractal. Namun juga memiliki modul dasar yang sifatnya mirip dengan proses penggunaan batik cap dan bahkan dapat bersifat sederhana melalui proyeksi dua dimensi dari sebagian sumbu kristal zeolit tersebut,” ungkap Alvanov Zpalanzani, seperti dinukil dari laman ITB, Senin (17/6/2013).

Zeolit, lanjutnya, merupakan senyawa kimiawi mineral berbentuk kristal yang tersebar di alam . Sebenarnya, zeolit dapat terbentuk di awal maupun diperoleh dari hasil rekayasa di laboratorium. Menariknya, terdapat lebih dari 200 variasi kristal zeolit.

“Kelebihan batik berbahan zeolit ini adalah dari aspek desain, yaitu sebagai penanda identitas banyak hal. Misalnya, Indonesia hanya memiliki beberapa jenis zeolit tertentu sehingga dapat menggambarkan keunikan zeolit Indonesia melalui batik. Selain itu, Batik Zeolit menerapkan metode cap dan tulis, berbeda dengan baju industri,” jelasnya.

Dosen program studi Desain Komunikasi dan Visual itu menyebut, untuk proses pembuatan, satu potong baju jadi dapat dihasilkan dalam waktu satu sampai satu setengah bulan. Proses pembuatan batik zeolit ini terdiri dari tahap persiapan, pembatikan/’nyungging’, pewarnaan, dan yang terakhir finishing atau ‘babaran’.

Terakhir, Alvanov berharap agar lebih banyak bidang-bidang keilmuan lain yang dapat bekerjasama untuk menciptakan terobosan-terobosan terbaru lainnya. Sebab, inovasi batik zeolit melupakan kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu yang ada.

“Ini merupakan riset kolaborasi FMIPA dan FSRD, terdapat banyak motif dan kemungkinan output lain jika lebih banyak lagi bidang keilmuan yang turut berpatisipasi jika kita semangat untuk mengeksplorasi. Eksplorasi sendiri harus bermain dengan konteks budaya, sosial, geografi, teknologi, dan manusia,” ujar Alvanov. (mrg)

(Sumber: Okezone)
Tenun Ikat Bandar Distro Kediri KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Asfin Firmansyah Juara Lomba Membatik Kediri

Pakai Sepatu Jebol Kalahkan Siswa SD Se-Kota Kediri, Hobi menggambar dan membuat kaligrafi mengantar Asfin menjuarai lomba membatik di kotanya. Siswa kelas V SD ini tak kehilangan konsentrasi meski saat berlomba sepatunya bolong. Walau bersepatu butut, hasil karya batiknya gemilang dan menjadi terbaik.

Etalase Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kediri
"Senang sekali," ujar Asfin Firmansyah mengomentari prestasinya di dunia batik saat ditemui Radar Kediri siang itu (2/5). "Siswa SDN Ngletih ini baru saja mengukir prestasi gemilang April lalu. Dia menjadi juara lomba membatik tingkat SD se-Kota Kediri. Meski membanggakan, Asfin yang pemalu lebih banyak diam dan tersenyum.

Keberhasilan menjadi juara tingkat Kota Kediri itulah yang mengantarkan Asfin maju ke tingkat Provinsi Jawa Timur. Dia menjadi wakil sekaligus andalan Kota Tahu dalam lomba membatik di Surabaya pada 21 Mei nanti. "Target saya juara di jatim," kata remaja kelahiran Kediri, 2 September 1996 ini.

Sukses Asfin menjadi yang terbaik dalam lomba membatik di Kota Kediri dilalui dengan perjuangan berat. Dia sempat menjadi pusat perhatian. Karena anak tukang becak ini memakai sepatu jebol. "Saya tak punya sepatu. Jadi meski jebol, tetap saya pakai," ujarnya.

Beruntung, mental Asfin tidak drop. Dia fokus dalam lomba. Hasilnya, dewan juri pun mengakui kehebatan siswa yang juga jago dalam kaligrafl ini. Dia akhirnya dinobatkan sebagai juara pertama. "Saya suka menggambar dan membatik," aku siswa asal Kelurahan Ngletih, Kecamatan Pesantren ini.

Kecintaan Asfin pada dunia batik membuatnya rela berjam-jam duduk di kursi kecil untuk membatik. Dia terlihat sangat tekun menorehkan canting di selembar kain. Sehingga, karyanya sangai istimewa. Keberhasilan Asfin ini membuat SDN Ngletih bangga. Hj. Suprapti, pembina Asfin, sampai meneteskan air mata saat mengetahui anak didiknya menjadi juara. "Saya tidak menduga sama sekali, Asfin bisa juara,” urainya.

Dalam lomba tingkat Kota Kediri, SDN Ngletih tidak memberi target muluk-muluk. Sebab persiapan Asfin juga sangat minim. Dia hanya berlatih dalam hitungan minggu. Maklum, ekstrakurikuler membatik baru ada di SDN Ngletih. "Kami belajarnya ndadak. Alhamdulillah bisa juara," katanya.

Untuk lomba tingkat provinsi, SDN Ngletih tidak mau main-main. Asfin terus digenjot latihan. Setiap ada jam kosong atau pulang sekolah, dia didampingi Suprapti berlatih membatik. Tak tanggung-tanggung, tema batik yang akan dilombakan juga sudah disiapkan. Temanya adalah 'Parang Garuda Boyo' Tema tersebut menyesuaikan dengan lokasi lomba yang ada di Surabaya. " Mudah - mudahan menjadi juara di Jatim," tutur Suprapti.

Sementara itu, Kepala SDN Ngletih Tuwari juga mendukung total Asfin dalam lomba. Meski sekolah pinggiran, tetapi Tuwari tidak ingin anak didiknya kalah bersaing dengan siswa dari sekolah favorit di Kota Kediri atau daerah lain. "Setiap ada kegiatan atau lomba yang positif, kami selalu mengirimkan siswa kami," jelasnya. Khusus untuk Asfin, Tuwari ingin anak didiknya meraih hasil maksimal. Dia memberikan waktu seluas-luasnya kepada Asfin dan pembinanya berlatih membatik. "Lomba nanti adalah nama Kota Kediri yang dipertaruhkan. Jadi harus sukses," tegasnya.

Dukungan terhadap Asfin tidak hanya dari SDN Ngletih, Walikota Samsul Ashar yang melakukan road show program 1.000 Sepatu untuk Anak Kota Tahu, kaget saat mengetahui Asfin berasal dari keluarga kurang mampu. Saat mengetahui sepatu yang dipakai Asfin tidak layak pakai, Samsul Ashar langsung memberikan sepatu baru. "Sepatu baru ini bisa dipakai ke Surabaya untuk lomba," tuturnya.

Tidak hanya itu, Samsul Ashar juga langsung memberi bantuan uang saku. Pria yang akrab disapa Pak Dokter ini berharap anak bungsu pasangan Samuri dan Karmi tersebut bisa meraih sukses di lomba tingkat provinsi. "Jangan takut atau minder. Kemiskinan bukan penghalang berprestasi," kata Samsul Ashar memberi semangat,

Selain itu, ia juga minta Asfin berlatih keras. Karena Asfin sudah tidak membawa nama SDN Ngletih, tetapi Kota Kediri. Sehingga, jika bisa juara, nama Kota Kediri juga akan harum. "Jika ada yang dibutuhkan, silakan hubungi saya," ujarnya.

Bantuan sepatu tersebut membuat Asfin semakin percaya diri. Dia bersorak kegirangan saat menerima bantuan. Raut muka siswa SD ini pun cerah. Dia langsung menunjukkan kebolehannya membatik di depan walikota dan tamu undangan. "Mudah-mudahan, saya bisa menjadi juara di Jawa Timur," tekadnya.

(Kediri, Radar)
Info Lengkap

Manohara Terinspirasi Adesagi Kirana

Batik Kediri
Model dan artis sinetron, Manohara Odelia Pinot baru saja memulai debutnya sebagai desainer. Koleksi pertamanya ia pamerkan di Smesco Tower, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (07/03/2013). Perempuan berumur 21 tahun itu mengungkapkan, mendesain busana sudah sering ia lakukan dari dulu, namun hanya sebatas mendesain baju pribadinya ketika ingin mendatangi sebuah acara. Baru kali ini ia diberi kesempatan untuk menampilkan koleksi di panggung catwalk.

"Yes its my first debut, belum ada label ya. Ini hanya project dari Smesco untuk menampilkan koleksi kain nusantara dari UKM, batik betawinya dari sini, lalu Mano buat jadi busana yang wearable. Untuk koleksi kali ini inspirasinya dari personal style Mano aja," ungkapnya pada Woilpop saat bercerita mengenai debutnya.

Persiapan untuk show yang berisikan 5 potong busana dari kain nusantara itu hanya berlangsung selama seminggu. Wanita yang tengah melanjutkan pendidikan di sekokah desain di Jakarta itu pun mengakui banyak mendapatkan inspirasi desain dari desainer favoritnya, Almarhum Adesagi Kirana dengan karya yang playful dan feminin.

"Kesulitan sih ada dari segi waktu ya, kita dikasih waktu 5 baju itu hanya seminggu. Tapi Alhamdulillah we go through it. Sampai tadi di backstage masih bantu-bantu jahit peniti-peniti baju di model. Yang jadi inspirasi juga itu Adesagi ya, karyanya menginspirasi aku hari ini. very girly, bright color, with skirt, and i love that kind of style. Itu Mano terinspirasi dari dia," paparnya saat menceritakan pengalaman pertamanya sebagai desainer.

Mendapat dukungan yang besar dari keluarga dan teman-temannya, membuat wanita yang akrab disapa Mano ini ingin serius dalam industri fashion. Kedepannya ia pun berencana membuka butik seusai menyelesaikan pendidikan desain.

"Sekokah dulu yang penting. Sekarang lagi sekolah desain di salah satu sekolah dari Milan di Jakarta, kalau namanya jangan dikasihtau dulu. Nanti mau sih buka butik sendiri. Konsepnya untuk anak muda. Bajunya wearable untuk wanita confidence dengan bahan yang berkualitas tapi harganya tetap terjangkau," tutupnya.
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Manohara Hadirkan Busana Motif Batik Betawi

Batik Kediri
Sosok Manohara sudah lama tak terlihat di media sebagai model maupun bintang sinetron. Ternyata, ia tengah sibuk mendalami profesi sebagai desainer. Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM menjadi ajang untuk menampilkan koleksi perdana busana ready-to-wear miliknya.

Bertempat di Smesco Tower, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (07/03/2013), wanita yang akrab disapa Mano ini menampilkan lima potong gaun dengan gaya playful. Memadukan bahan batik khas Betawi yang didapatnya dari pengrajin UKM, wanita berusia 21 tahun ini memilih dominasi warna cerah seperti pink, hijau dan merah.

"Ini debut Mano sebagai desainer, tapi belum ada nama label. Ini hanya project dari Smesco, ini adalah batik Betawi yang didapat dari UKM di sini lalu Mano buat jadi busana yang wearable untuk wanita yang confidence," ungkap Mano, saat diwawancarai Wolipop mengenai konsep koleksinya.

Selain gaun berbahan lace yang dipadukan dengan rok dari batik Betawi, ia juga menghadirkan gaun malam berwarna hitam. Namun kesan betawi yang jadi benang merah koleksinya tetap hadir dalam bentuk clutch bag.

Diakuinya, rancangan perdana ini terinspirasi dari karya almarhum desainer Adesagi yang playful dan feminin. Di akhir pertunjukannya ia tampak hadir dalam balutan gaun tube warna cerah.

Tidak hanya Manohara yang mengisi show bertema "Pesona Kain Nusantara" ini, sejumlah desainer lainnya seperti Danny Satriadi, Erdan, Wirokunto, Sejati, Rini Suardi juga ikut menampilkan koleksi bernuansa kain Nusantara ini.
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Mengenal Batik Bogor Khas Kota Hujan

Batik Kediri
Kota Bogor berpeluang menjadi pusat kerajinan batik yang baru. Pasalnya, kota ini punya corak dan ragam khas yang diproduksi perajin, kata pemerhati industri batik Dr Ifan Haryanto.

"Ke depan dengan dukungan yang baik, produk batik Kota Bogor dapat dikembangkan sebagai pusat kerajinan batik, yang memiliki keunggulan komparatif, sekaligus kompetitif," kata doktor lulusan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Sekolah Pascasarjana IPB itu di Bogor, Jawa Barat, Kamis (31/1).

Ifan Haryanto yang juga anggota Kadin pusat ini mengatakan optimistis ke depan industri kerajinan batik dapat terus berkembang dengan baik. "Bahkan, batik dapat dikembangkan sebagai sebagai destinasi wisata baru kebanggaan Kota Bogor," katanya.

Hal itu sangat beralasan, kata dia, karena setiap tahun Kota Bogor dikujungi rata-rata 3,3 juta orang wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Ia menyatakan bahwa tingginya angka kunjungan wisatawan ke Bogor, akan menjadi "bahan baku" sangat penting yang dapat mendorong kebangkitan batik sebagai industri kerajinan baru yang prospektif.

"Wisatawan dapat dijadikan pasar yang sangat potensial untuk pengembangan batik. Batik bisa dijadikan sebagai cenderamata dan oleh-oleh khas Bogor," katanya.

Ia menambahkan, potensi Bogor dapat dikembangkan sebagai kota batik, terlebih didukung dengan jarak yang sangat dekat dari Jakarta dan tingginya tingkat kunjungan wisatawan ke kota ini.

"Sehingga hal itu dapat dijadikan sebagai faktor pendukung daya saing," katanya.

Terobosan
Batik khas Bogor merupakan sebuah terobosan dan prestasi besar, karena tradisi kerajinan ini tidak ada sebelumnya. Tradisi kerajinan batik khas Kota Bogor, sejauh yang diamati, mulai tumbuh sejak 2008, seiring dengan lahirnya kerajinan batik "Tradisiku", yang dipelopori Siswaya, dengan mengangkat corak dan motif khas Bogor.

Upaya tersebut tidak saja patut diapresiasi dan didukung semua pihak. "Apa yang diprakarsai Pak Siswaya sebagai sebuah terobosan besar yang patut diapresiasi dan didukung semua pihak. Hal tersebut sebagai bentuk kecintaan dan komitmen terhadap Kota Bogor," katanya.

Begitu pula dengan Siswaya, yang telah dengan susah payah membangun tradisi baru kerajinan batik di Bengkel dan Galeri Batik "Tradisiku" di Jalan Jalak No 2, Tanahsareal, Kota Bogor patut didukung penuh, katanya.

Batik khas Bogor "Tradisiku" mengusung gambar rusa, Tugu Kujang, tapak kaki prasasti Batutulis, bunga bangkai, dan daun talas, sebagai motif. "Ciri khas motif inilah yang membedakan batik Bogor dengan batik dari daerah lain," katanya.

Ifan Haryanto yakin kerajinan batik khas Bogor memiliki prospek yang sangat cerah. Untuk itu, dirinya berkomitmen akan membantu kerajinan batik agar terus tumbuh dan menggeliat di Kota Bogor.

Sebagai bentuk dukungan terhadap kerajinan batik "Tradisiku", ia bertekad akan sering mengenakan batik khas Bogor ini, baik dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Kota Bogor maupun di luar kota atau bahkan di mancanegara.

"Saya merasa nyaman dan bangga mengenakan batik khas Bogor. Saya akan berusaha untuk sering mengenakannya," pungkasnya.
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Industri Mode Indonesia Bangun Cetak Biru

Batik Kediri
Sedari awal, tujuan diadakannya Indonesia Fashion Week (IWF) yang dirilis pada Februari 2012 adalah sebagai etalase yang bisa menunjukkan kepada dunia potensi besar industri mode Indonesia. Tapi tidak hanya itu, IFW juga punya beban berat untuk dipanggul, yakni sebagai kendaraan guna menjalankan cita-cita besar, Indonesia sebagai kapital mode dunia, sejajar dengan New York, London, Milan dan Paris.

IFW sendiri dicanangkan oleh salah satu organisasi mode besar di Indonesia, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) yang didukung empat kementrian, yakni Kementrian Perdagangan, Kementrian Perindustrian, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), serta Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

”Sebagai asosiasi, kami melihat bahwa Indonesia belum punya ‘the real fashion week’ yang tidak hanya mempertunjukkan acuan tren terbaru, tapi juga punya pameran dagang tersendiri yang menonjolkan sisi business to business,” terang Direktur Indonesia Fashion Week, Dina Midiani, saat berbincang dengan beberapa media di butik Lenny Agustin di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

”Selama ini, jikapun ada, pameran dagang di sebuah perhelatan fashion lebih mengarah ke perdagangan ritel, yang kurang bisa mendorong bisnis mode secara luas,” papar Dina. Selain itu, Dina juga menambahkan secara branding, Indonesia pun masih belum punya nama di dunia internasional. ”Padahal potensinya ada, tapi belum digarap secara maksimal,” katanya.

Disitulah IFW memfokuskan diri. Menjadi sebuah pekan mode dengan platform internasional, dimana kedepannya IFW bisa menjadi tempat buyer-buyer mancanegara berbelanja, mencari produk-produk potensial untuk dijual di negaranya, sekaligus memperkenalkan referensi tren mode versi pelaku mode Indonesia. IFW juga merupakan pekan mode pertama yang mengombinasikan fashion show dengan pameran dagang produk fashion, seminar edukatif, talkshow juga kompetisi bagi entrepreneur fashion.

Tapi, sebuah cita-cita besar seperti itu tentu tidak bisa langsung terwujud. Butuh perencanaan dan strategi yang digodok matang, dan terlebih butuh pelaku yang komitmen untuk terus menjalankannya. ”Karena itu dibutuhkan roadmap, dibutuhkan blueprint atau cetak biru untuk membangun mode menjadi sebuah industri,” tegas Dina.

Kabar baiknya, sinergi kerjasama antara pelaku mode dan pemerintah sudah semakin erat terjalin. Bahkan kini mode punya ”rumah” sendiri di Kemenparekraf. ”Sebelumnya kita cuma ngekos-ngekos di berbagai kementrian. Kini kita sudah punya rumah sendiri sehingga masa depan industri mode ini bisa lebih cerah,” tutur Dina.

Berbicara mengenai potensi industri mode, data dari Kemenparekraf menunjukkan bahwa dari 15 bidang ekonomi kreatif yang diurusi kementrian, fashion menjadi salah satu kontributor terbesar dengan nilai sumbangan pendapatan sebesar Rp 71,98 triliun di bidang ekspor pada 2010.

”Subsektor fashion selalu menjadi kontributor tertinggi pada nilai ekspor industri kreatif sejak 2002 hingga 2010,” kata Direktur Desain dan Arsitektur pada Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan IPTEK Kemenparekraf, Poppy Savitri.

”Tahun ini ada sekitar 10 negara yang akan ikut berpartisipasi di pameran dagang dan ada juga yang ikut show,” kata Dina, sembari menunjukkan beberapa negara yang akan ikut serta adalah Jepang, Thailand, Malaysia, Italia dan Australia. ”Tentu saja ini menjadi kabar gembira bagi kami karena awalnya kami masih menargetkan pasar domestik hingga tahun 2015 nanti,” sambungnya.

Tapi, bergabungnya beberapa negara tersebut menjadikan IFW 2013 harus mempercepat langkah. ”Kami menjadikan 2013 ini sebagai langkah awal menuju dunia internasional,” tegas Dina. Untuk itu, panitia IFW 2013 sudah mengkurasi sekitar 100 pelaku mode yang dipersiapkan menerima pesanan buyer internasional. ”Jangan sampai buyer datang kemudian kecewa, karena itu kami ingin menjadikan tahun ini sebagai transisi IFW dari business to consumer (b2c) menjadi business to business (b2b),” kata desainer yang sudah berpengalaman di dunia mode selama hampir dua dekade tersebut.

Adapun IFW 2013 yang mengambil tema ”Inspiring Indonesia” akan diikuti 503 peserta, dengan 208 desainer yang terlibat di 16 fashion show, dimana sebanyak 2342 busana akan dipamerkan. (lesthia kertopati)

TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Tyas Ajeng Nastiti Ramaikan Bisnis Sepatu Batik

Batik Kediri
Industri batik memang terus menggeliat. Berbagai produk rumah tangga hingga fesyen banyak yang sekarang memakai kain batik sebagai bahan bakunya. Tidak terkecuali sepatu, yang kini sudah bermotifkan batik.

Bisnis sepatu batik kini semakin ramai dijajaki pengusaha. Dan, Klastik Footwear yang dinahkodai oleh perempuan muda, yakni Tyas Ajeng Nastiti, pun mencoba terjun di bisnis ini.

“Produk kami memang sepatu wanita batik. (Sepatu) inginnya model-model yang sekarang, tapi tetap dikasih sedikit nuansa kain batik,” sebut Tyas, CEO Klastik Footwear, di sela-sela pameran Wirausaha Mandiri Expo 2013 yang bertempat di Balai Sidang Jakarta, Jumat (18/1/2013).

Usaha yang dirintis Tyas dengan beberapa temannya ini telah memenangkan penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2012 di kategori mahasiswa bidang usaha kreatif. Perjalanannya dalam merintis usaha ini tidak mudah.

Ia yang masih duduk di bangku kuliah tingkat akhir di jurusan Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, ini bergelut dengan kepercayaan pasar yang rata-rata beranggapan bahwa produk fesyen yang bagus itu berasal dari Jakarta dan Bandung saja. Padahal produk sepatu asal Surabaya ini pun tak kalah bagusnya. Bagaimana perjalanan Tyas dan teman-temannya yang juga berasal dari jurusan yang sama merintis Klastik Footwear?, Berikut petikan wawancara dengan Tyas :

Kenapa memilih membuat sepatu batik ?
Karena memang di Surabaya, ada banyak perajin sepatu. Tapi rata-rata, mereka itu mau produksinya sepatu massal dengan merek-merek replika. Dan barang replika kalau dijejerin sama aslinya itu mirip. Jadi, istilahnya sumber daya manusia kita itu sebenarnya bagus untuk produksi sepatu. Nah, akhirnya kita berpikir, kalau kita bisa produksi replika bagus, kenapa kita nggak bikin saja dengan produk kita sendiri, dengan desain sendiri, dilabelin brand kita sendiri. Akhirnya, tercetuslah bikin brand lokal dari Surabaya yang berkualitas. Dan, batiknya itu nggak full. Kalau dilihat cuma 40 persenan. Jadi, biar dia tetap elegan.

Sepatu dengan motif batik sebenarnya sudah ada di pasaran. Bagaimana diferensiasi dengan produk yang sudah ada ?
Kalau diferensiasi, itu bisa dilihat dari desain-desain kami. Pertama, produk kami classy (berkelas) dan mengikuti model-model yang ada. Kedua, sepatu kami ethnic, yakni memakai kain-kain batik pilihan. Karena target sasaran konsumen kami rentang usianya 15-35 tahun. Ketiga, kami terus berinovasi di sol dan bentukan kaki. Jadi, sepatunya nyaman dipakai, meskipun dengan hak yang pendek maupun hak tinggi.

Bagaimana awalnya mendirikan bisnis sepatu batik ini ?
Awal memulai bisnis itu dari program kreativitas mahasiswa (PKM). Dari program itu kami dapat dana hibah yang dijadikan modal usaha, yakni Rp 7 juta. Kalau nggak salah kami meluncurkan proposal bisnis yang PKM itu bulan September 2011. Jadi ini bisnis baru banget. Makanya, alhamdullilah dapat kesempatan Wirausaha Muda Mandiri dan dapat penghargaan juga. Menurut saya ini baru start ya, untuk bisa ke kancah nasional.

Dari situ, kami mulai berinovasi, seperti dalam model sepatu. Awalnya, kami cuma berpikir ingin sepatu bentuk flat, dan diproduksi sepatu itu. Tapi sekarang berkembang menjadi sepatu wedges, bertumit, dan sebagainya.

Jadi, berapa modal yang dipakai untuk mendirikan bisnis ini ?
Ya, modal sekitar Rp 7,6 juta. Sebagian besar untuk bahan, trial & error, dan membuat desain. Terus kami banyak habiskan uang di promosi, seperti kotak sepatu awalnya jelek, tapi sekarang sudah punya kotak dengan nama produk kami.

Batik Kediri
Berapa orang karyawan yang dimiliki sekarang ini ?
Kami bentuknya tim, seperti ada tim brand manager yang membuat promosi hingga desain. Total karyawan ada lima orang. Kalau perajin, merekrut perajin lokal dari Surabaya, yakni ada dua orang. Kami sesuaikan jumlah perajin nantinya, kalau demand semakin tinggi.

Apakah ada kesulitan dalam mendirikan dan mengembangkan bisnis ini ?
Kesulitan kami itu bagaimana meyakinkan pembeli bahwa kami itu punya produk yang bagus. Karena kalau diperhatikan, produk fesyen bermerek itu kan rata-rata dari Bandung dan Jakarta, sementara kami start up dari Surabaya. Dan ada pandangan orang-orang itu bahwa, “Sepatu dari Surabaya itu memangnya OK?” Kami dari awal seperti itu sampai akhirnya ketemu sama customer pun ada yang bertanya di mana letak showroom-nya di Jakarta.

Sekarang, berapa produksi sepatu per bulannya ?
Masih sedikit sih, tapi terus meningkat. Sekarang sudah sampai 100-150 pasang sepatu per bulan. Dengan penjualan 75-90 pasang sepatu per bulannya. Penjualan secara online. Paling besar pengiriman ke Jakarta.

Tidak berminat membuka toko ?
Kami bukan berupa toko, karena modal masih terbatas. Paling konsinyasi. Nanti kami titip ke toko yang sesuai dengan konsep. Dan, tokonya kalau bisa punya pasar yang luas. Kami sudah ada beberapa channel yang akan lebih serius tahun 2013. Salah satunya di Grand Indonesia, yakni di Alun-Alun Indonesia. Rencana mau masuk di situ.

Lalu, ada rencana apa lagi yang akan dijajaki ke depannya ?
Rencana ke depan kita coba ingin membuat sepatu cowok. Sekarang masih sepatu cewek. Sepatu cowok, kita baru testing pasar di pameran ini. Kalau banyak yang tertarik , kami mau seriusin dan harganya juga lebih premium karena sepatu cowok itu beda dengan cewek, yakni harganya di atas Rp 500 ribu. Kalau sepatu cewek harganya Rp 145-375 ribu. Kami buat terjangkau tapi tetap berkualitas.
(EVA/majalah SWA)

TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Lestarikan Batik Lasem, IPI Berdayakan Pengrajin

Batik Kediri
Berbagai upaya yang dilakukan Institut Pluralisme Indonesia (IPI) untuk melestarikan batik lasem. Diantaranya dengan pemberdayaan kembali pengrajin-pengrajin batik lasem. Dari mereka, kemudian IPI melakukan pemberdayaan masyarakat setempat untuk memulai kreasi batik mereka.

Apalagi, sejak batik resmi menjadi warisan budaya dunia, kain bercorak itu kini kian populer. Tidak hanya di Indonesia tapi juga mancanegara. ’’Itu mendatangkan penghasilan tersendiri bagi para pengrajin batik. Bahkan, satu per satu mulai bermunculan industry batik lasem rumahan,’’ urai Direktur IPI Wiliam KHL di Jakarta, Selasa (1/1).

Dia mengaku terbantu dengan kian cintanya masyarakat Indonesia terhadap batik. Menurutnya, pekerjaannya menjadi kian mudah. Sebab, ’’anak asuhnya’’ kini sudah bisa menambah penghasilan, bahkan membuka lapangan pekerjaan.

’’Tugas saya menjadi lebih ringan. Karena kini tugas saya hanya memperkenalkan batik lasem kepada masyarakat dari sisi pengetahuan budaya. Mudah-mudahan itu bisa menjadi jalan untuk menambah konsumen bagi pembatik-pembatik lasem,’’ celetuknya santai lantas tersenyum.

Upaya lainnya yang dilakukan adalah mengadakan pameran. Hal ini untuk memperkenalkan batik lasem kepada masyarakat. Pihaknya tidak hanya berpameran di Jakarta, tapi juga merambah ke sejumlah negara tetangga.

Menurutnya, lewat pameran ada tiga sasaran yang bisa dicapai. Yaitu, apresiasi terhadap batik lasem, pengembangan jaringan khususnya bagi perajin batik lasem, dan juga sebagai upaya share untuk pengembangan industri kreatif batik di masa yang akan datang.

’’Ini sekaligus sebagai refleksi dari hasil kerja IPI bagi revitalisasi budaya dan usaha kecil batik lasem selama lebih kurang lima tahun terakhir,’’ ucapnya lagi. Lebih lanjut, dia menyebutkan, bahwa melakukan pendampingan para perajin batik lasem bukan perkara mudah. [mar-15]
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Batik Go Green, Yangke Buat Batik Peduli Kesehatan

Batik Kediri
Bisnis kain dan pakaian batik memang kian menggeliat di Tanah Air. Bisnis pakaian yang penuh warna ini pun menarik perhatian seorang Yangke, pemilik usaha Prabu Batik. Akan tetapi, bisnisnya bukan sembarang batik biasa. Ia memproduksi batik indigo yakni batik dengan menggunakan pewarna alami dari tanaman indigofera tinctoria, atau lebih dikenal dengan sebutan tanaman nila.

Yangke yang pernah menjadi karyawan BMW-Astra International ini, sudah berjualan baju sejak tahun 2005. “Tapi itu asal ambil. Setelah itu mulai desain baju tahun 2006,” sebut Yangke, di sela-sela acara yang digelar oleh PKBL Pertamina, di Jakarta, pekan lalu.

Tak puas dengan berjualan baju jadi, ia pun menggandeng sejumlah perajin untuk membuat batik. Ini dilakukannya pada tahun 2008. Ada dua orang perajin yang direkrutnya dan sekarang bekerja di Bantul, Yogyakarta. Beberapa motif batik dibuatnya, salah satunya yakni motif dari Pacitan untuk yang menggunakan pewarna alam.

Lantas apa gerangan latar belakang ia membuat batik dengan pewarna alam? “Kenapa? Karena saya melihat dan mendengar pemerintah bahwa pewarna sintetis, seperti naphtol, itu pemicu kanker paling besar,” jawab Yangke.

Berangkat dari kepeduliannya tersebut, ia pun mulai memproduksi batik yang disebut dengan batik indigo. Batik ini disebut demikian karena menggunakan pewarna dari tanaman nila (indigofera tinctoria). Namun, ia tidak membeli pewarna ini, melainkan membuatnya sendiri.

Penanaman pohon nila pun dilakukan di daerah Bantul. Ia tidak bisa menyebutkan berapa luasan lahan tersebut. Yang jelas, kata Yangke, penanaman pohon ini tidak terlalu rumit. Perawatannya pun tidak sulit. Dalam penanaman pohon tersebut, ia bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan dan Pemerintah Daerah setempat. Rencananya, ia akan memperluas penanaman ke daerah Subang, Jawa Barat. “Bekerja sama Kementerian Kehutanan. Ini untuk orientasi ekspor (batik indigo) ke Jepang, Korea sama Eropa,”

Menggunakan pewarna alami ini tidak dilakukan Yangke dengan sembarangan. Riset telah berjalan dari tahun 2008. Riset yang menggandeng sebuah universitas di Yogyakarta ini dimulai dari penanaman hingga ekstrak daun menjadi pewarna. “Seperti pewarna tahan lama nggak sih, warna alam ini bekerja seperti apa, kalau dicampur air sepekat apa warna nempel di bahan ini,” imbuh dia menerangkan seperti apa riset yang dilakukan.

Mengenai warna biru yang menjadi kekhasan dari batik indigo, ia mengatakan hal ini ditimbulkan oleh adanya bakteri. Aslinya, warna yang dihasilkan tanaman indigo adalah hijau. Namun, suatu bakteri mengubah warna hijau menjadi biru. Bentuk pewarna yang digunakannya pun bukan pasta, melainkan bubuk (powder).

“Satu lembar bahan memakan waktu (pengerjaan) 100 hari. Powder itu tidak bisa dibuat massal. Makan waktu lama karena penyerapan ke kain sulit sekali dibanding pasta. Cuaca juga berpengaruh. Selama tiga bulan paling produksi 30 lembar kain,” jelas Yangke.

Selain lamanya waktu pengerjaan, usaha batik ini pun terbilang memakan biaya yang tidak sedikit. Lantaran harga pewarna bentuk bubuk yang lebih mahal ketimbang bentuk pasta. Satu kilogram bubuk bisa mencapai Rp 900.000, sedangkan satu kilogram pasta seharga Rp 90.000. Dari satu kilogram pewarna indigo, Yangke tidak bisa menyebutkan berapa kain batik yang bisa dihasilkan. “Satu kilo itu tergantung mau buat seberapa biru dan seberapa banyak bakteri yang bekerja di air,” terang dia.

Ditegaskan dia, per lembar kain batik yang berukuran 2,2-3 meter, modal yang dibutuhkan bisa mencapai Rp 600.000. Sedangkan ia menjual kain dengan rentang harga Rp 750.000-Rp 900.000. Dengan kata lain, marjin yang diambil oleh usaha Prabu Batik tidak besar. Biaya memang menjadi sebuah kendala yang cukup besar dalam memproduksi batik indigo. Dan untungnya ia terbantu dengan keikutsertaannya menjadi mitra binaan BUMN, yakni Pertamina, pada tahun 2009. Ia mengatakan, “Market saya terbantu karena diikutkan berbagai macam event sama Pertamina di dalam negeri dan luar negeri.”

Sejumlah kesulitan yang ada tak lantas menciutkan usaha batik yang dijalankan Yangke bersama dengan suaminya. Buktinya? Sekarang Yangke telah mempunyai 8 perajin, di mana 40 persen dari usahanya adalah menjual batik indigo, yang lain adalah menjual songket dan tenun. Ekspor pun dilakukan, seperti ke Jepang dan Amerika Serikat. Ia yang pernah diajak oleh Pertamina untuk mengikuti sebuah kegiatan di Argentina ini sekarang mempunyai dua buah butik di kawasan Thamrin.

“Saya ingin ekspansi di luar Jawa, seperti di Kalimatan, Palembang, karena customer banyak ibu pejabat di daerah sana,” tandas dia mengenai rencana ke depan. (EVA)

(swa.co.id)
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Olivia Zalianty Bawa Perca Batik Sampai New York

Batik Kediri
Lama tak terdengar kiprahnya di kancah perfilman, Olivia Zalianty rupanya sedang asyik berbisnis. Memasarkan produk kerajinan berupa tas dari perca batik kreasi warga Majenang, Jawa Tengah.

Ya, meningkatnya minat para konsumen akan batik, menjadi salah satu peluang dalam menjalankan usaha ini. Tas batik yang terbuat dari potongan–potongan kain perca batik yang disambung dengan jahitan yang unik, ternyata diminati banyak konsumen.

Kecantikan yang dimiliki tas batik mampu menarik para wisatawan, sehingga menjadikan tas batik sebagai salah satu pilihan oleh–oleh yang khas.

Berbagai bentuk tas, dari mulai tas cewek dengan berbagai ukuran, tas ransel, hingga tas laptop pun terlihat cantik walaupun terbuat dari kain perca. Selain kecantikan beragam warna dan corak batik yang tergabung pada tas tersebut, produk tas perca batik juga memiliki harga yang relatif murah.

Olivia sengaja datang langsung memberikan pelatihan kewirausahaan kepada ibu-ibu dan sejumlah siswi SMA Karya Guna Nusantara yang terlibat. Bagaimana mengolah sisa potongan kain batik tak terpakai menjadi sebuah produk bernilai ekonomi tinggi.

"Saya ke daerah perbatasan Jawa dan Tengah Jawa Timur. Saya datang ke pedalaman, memberikan spirit dan motivasi. Dan, mereka sangat bersemangat untuk membuat produk-produk itu," ujar aktris yang populer lewat film 'Ada Apa Dengan Cinta' itu, di acara Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012.

Batik Kediri
Olivia mengatakan, proses pengerjaan tas dari perca batik sebenenarnya mudah. Tak membutuhkan biaya mahal. Yang menjadi kendala justru kapasitas produksi yang terbatas mengingat pembuatannya yang manual (handmade).

"Dari Singapura pesen 700 buah, tapi kami loss opportunity, karena nggak bisa memenuhi permintaan sebanyak itu dalam waktu cepat. Ini kan kerajinan tangan, bukan pabrik," ujarnya. "Saya sedang berpikir bagaimana bisa mengerahkan sumber daya manusia yang banyak dengan kualitas terjaga."

Dengan strategi pemasaran berskala kecil, ia tak menyangka produknya memikat banyak kalangan. Februari mendatang, produknya pun dipercaya ikut pameran di ajang Indonesia Fashion Week. Bahkan, sudah ada yang melirik dan bersiap diboyong ke New York, Amerika Serikat.

"Nanti akan kerja sama dengan perancang busana, jadi didampingi sama mereka. Sedangkan yang ke New York juga dibawa untuk pameran," ucapnya seraya menjelaskan bahwa sebagian profit usaha ini ia dedikasikan untuk mendukung program-program pendidikan di Tanah Air. (vivanews.com)
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Katedral Jakarta Rayakan Natal Dengan Batik

Batik Kediri
Ada yang berbeda dalam perayaan Natal tahun ini di Paroki Katedral Jakarta. Semua ornamen dekorasi yang menghias pohon natal, hingga "kandang domba" semuanya bermotifkan nuansa batik.

Seperti untuk pohon natal, panitia menatanya menggunakan rangkaian bunga yang terbentuk dari potongan kain batik daur ulang, pinus yang dikeringkan, jerami kering, ranting yang berasal dari bumi nusantara, lengkap dengan bola-bola kecil dan kaos kaki natal berwarna hijau dan merah.

Pohon-pohon ini terpajang mulai dari tenda di gerbang depan, hingga ke dalam gereja. Sehingga tak ayal, bagi umat yang usai melakukan misa, banyak menyempatkan diri berfoto sejenak.

Demikian juga dengan "kandang domba" yang persis terletak di sebelah kanan altar. Semuanya ditata bermotifkan batik dengan menggunakan unsur bahan-bahan daur ulang dan bahan alam yang mudah ditemukan. Baik itu kayu, jerami, batang padi dan lesung.

Menurut Koordinator Humas Panitia Natal Susyana Suwadie, pemilihan kandang diambil karena masyarakat Indonesia lebih dekat dengan konsep tersebut daripada gua natal. Sementara corak batik, dimaksudkan agar corak budaya asli Indonesia menyatu dengan umat yang hadir merayakan natal.

Batik Kediri
"Jadi hal-hal ini diharapkan membantu umat merasakan Tuhan yang lahir dan dekat dengan manusia," katanya di Jakarta, Selasa (25/12).

Selain itu, kandang domba menurutnya, juga merupakan cerminan kesederhanaan dan kerendahan hati. "Jadi dekorasi kandang domba natal yang sederhana, dimaksudkan sebagai bentuk bela rasa terhadap sesama yang membutuhkan dan hidup sederhana sebagai usaha membangun hidup yang solider, rukun dan bersaudara," katanya.

Sementara itu pemilihan corak batik, dimaksudkan mengajak umat kembali pada kekayaan tradisi dan warisan budaya. Hal ini sejalan dengan pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) yang meminta umat melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaanNya dari perilaku sewenang-wenang dalam mengelola alam. (gir/jpnn)
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Alleira Batik Pamer Koleksi di Berlin Fashion Event 2012

Batik Kediri

Setelah diakui UNESCO pada 2009 lalu, hingga kini batik terus-menerus tampil di panggung mode internasional. Terbaru, brand batik Alleira telah memamerkan koleksinya di Berlin Fashion Event 2012.

Alleira Batik bersama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Khusus Ibukota Jakarta mengusung peragaan busananya di Jerman dalam rangkaian acara Berlin Fashion Event 2012. Acara tersebut digelar pada 15 hingga 22 Oktober 2012 lalu. Hal ini dilakukan Alleira semata-mata karena ingin berkontribusi pada hubungan kerjasama bilateral antara Indonesia dan Jerman.

Bahkan, brand batik yang terkenal dengan permainan warna gradasinya itu tak hanya melangsungkan satu peragaan busana, tetapi dua kali. Seperti yang dikutip dari rilis pers yang diterima wolipop, peragaan busana pertama diselengarakan di Alexa Mall pada 19 Oktober 2012 dan kedua di UDK (Universit√§t der K√ľnste) pada 20 Oktober 2012.

Agar dapat diterima oleh dunia mode luar negeri, Alleira pun tak takut merancang koleksi yang bernuansa modern. Brand yang memilih Annisa Pohan sebagai model sekaligus ikon itu, mengusung tema 'pop art' yang kekinian. Tema tersebut diartikan dalam potongan busana tak biasa, kasual, dan chic.

Walau begitu, Alleira tetap menjunjung tinggi budaya ketimurannya dengan menghadirkan koleksi batik yang dibuat dengan teknik cap dan tulis. Lewat koleksinya itu, Alleira ingin menyampaikan bahwa seorang wanita harus mencintai hidupnya dan sadar akan kodratnya sebagai wanita yang feminin, berpribadi kuat, berbudaya, dan sophisticated.
(detik.com)
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Menikmati Teh dan Fashion Batik di Shangri-La Hotel Surabaya

Suasana sore di lounge Hotel Shangri-La Surabaya, Kamis (13/12/2012) tampak berbeda di banding hari biasa. Jajaran kursi memanjang saling berhadapan memberi ruang pada yang cukup lenggang di tengahnya.

Tak lama kemudian, setelah Wakil Gubenur Jatim, Saifullah Yusuf hadir dan membuka acara, ruang itu menjadi cat walk bagi empat model perempuan dan dua model laki-laki yang membawakan busana batik. Lenggak-lenggok mereka, dinikmati puluhan pasang mata yang duduk di kursi itu sambil menikmati sajian teh dan kopi hangat bersama puluhan jenis camilan sekali santap.
Menikmati Teh Sore hari Sambil Lihat Fashion Batik
Batik Danar Hadi by Priyo Oktaviano, Andreas Odang, dan Hutana Adhi
at Shangri-La Hotel, Surabaya
Photo by Habibur Rohman/Surya

Batik Kediri

Keenam model itu tampil dalam berbagai sesi. Mereka menampilkan berbagai model dan potongan busana batik dari Danar Hadi. Semuanya merupakan karya dari desainer Priyo Oktaviano, Andreas Odang, dan Hutana Adhi. Secara keseluruhan ada 20 busana.

Batik Kediri

Selain itu juga model potongan geometris dua warna bermotif parang kesik colet dari bahan sutra crepe. Evening wear dan coctail wear ditampilkan dengan model potongan asimetris lipit. Kemudian dengan empire waist (garis pinggang di bawah dada). Juga ada model A-line, dengan siluet yang melebar di bagian bawah.

Batik Kediri


Batik Kediri

Juliawati Sadeli, Communications Manager Hotel Shangri-La menjelaskan, sajian minum teh atau disebut juga high tea, merupakan kegiatan minum teh disore hari disertai berbagai jenis camilan. Tamu yang hadir di sore itu, diantaranya adalah para ibu dan perempuan kalangan sosialita Surabaya. Salah satunya adalah model senior Surabaya, Lisa Gunawan. Mereka terlihat asyik menikmati sajian fashion show, yang diikuti dengan pameran kain dan busana batik koleksi Danar Hadi lainnya.
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap

Batik Kudus Berusaha Eksis Kembali

Batik Kediri
Salah satu karya budaya yang mewakili identitas Indonesia di tingkat internasional yaitu batik. Lewat selembar kain batik, terdapat identitas budaya bangsa, hingga sejarah suatu daerah atau kota.

Tak hanya satu atau dua motif batik yang lahir dan berkembang, tetapi ada ribuan jenis dan corak batik yang mewakili berbagai daerah yang tersebar di Tanah Air. Salah satunya yaitu, batik Kudus. Selain unik, motifnya pun terbilang menarik.

Sebagai produk yang dihasilkan dari salah satu daerah di Pulau Jawa yang merupakan pusat perkembangan agama Islam serta memiliki pengaruh kuat budaya Cina, menjadikan batik Kudus sebagai karya multikultur. Sejarah mengungkapkan bahwa pengaruh budaya dari para pedagang Cina kaya zaman dahulu yang mendatangkan para pembatik dari Pekalongan menciptakan batik peranakan dengan ciri khas batik Kudus.

Batik Kudus juga menghasilkan batik-batik lainnya yang sangat dipengaruhi budaya Islam. Hal ini terpapar dari dalam batiknya yang didominasi dengan motif Arab. Warna-warnanya pun cenderung gelap, seperti hitam, dan biru tua.

Meskipun batik Kudus sempat tenggelam, kini hasil karya multikultur itu berusaha untuk kembali eksis. Belum lama ini beberapa wanita di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dengan bersemangat mengikuti pelatihan membatik di Workshop Galeri Batik, Kudus. Program yang telah didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya itu sudah berjalan sejak Februari 2012 dan akan terus dikembangkan untuk membekali masyarakat Kudus dengan keahlian membatik.

"Batik Kudus ini harus dipelihara dan dikembangkan. Melihat minimnya jumlah pembatik di Kudus, kami merasa perlu memberikan pelatihan membatik kepada warga di Kudus. Dengan demikian tidak saja melestarikan budayanya, tapi juga memberdayakan masyarakat Kudus agar dapat secara mandiri mengelola batik Kudus dikemudian hari," ujar Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari.

Melalui 'Workshop Galeri Batik Kudus' tersebut, diharapkan batik yang berasal dari kota yang dikenal sebagai penghasil rokok kretek itu mampu bertahan dan berkembang mengikuti perkembangan zaman, tanpa menghilangkan ciri khasnya tersebut. Lalu seperti apakah ciri khas batik dari kota santri itu?

Di kalangan pecinta kain, batik Kudus dikenal sebagai batik peranakan yang halus dengan isen-isen (isian dalam ragam pola utama) yang rumit sebagaimana umumnya batik Jawa Tengah, di antaranya isen gabah sinawur, moto iwak, mrutu sewu, dan lain sebagainya.

Batik Kudus juga memiliki berbagai macam corak yang menggambarkan keadaan alam di sekitarnya. Ada pula pengaruh Islam melalui corak-corak kaligrafi yang terselip diantara motif batik Kudus.

Sedangkan warnanya, batik Kudus selalu hadir dengan warna sogan (kecoklatan) dengan corak tombak, parang, atau kawung. Namun, batiknya dihiasi dengan buketan (rangkaian bunga), serta taburan kembang, kupu-kupu, dan burung dengan palet yang cerah.
Jersey KAOS KEDIRI TENUN IKAT
Info Lengkap

Batik Indonesia Bersinar di Katumbiri Expo 2012

Batik Kediri
Batik Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Sejak tahun 2009, batik resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).

Dengan kreasi warna, motif dan bahan yang berkualitas tinggi, batik Indonesia pun dipuja pihak internasional. Delegasi negara-negara anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI) memuji batik Indonesia yang dipamerkan di Katumbiri Expo 2012.

"Batik Indonesia sangat indah, detail-detailnya dibuat dengan sangat hati dan menggunakan perasaan," kata seorang Delegasi OKI, Menteri Urusan Perempuan Republik Islam Afganistan HB Ghazanfar di Jakarta, seperti dimuat ANTARA, Rabu (5/12/2012).

Menurut Ghazanfar, pembatik Indonesia memiliki kesabaran dan rasa cinta budaya yang sangat tinggi, sehingga mampu menghasilkan sebuah produk yang tidak hanya nyaman dipakai, tetapi juga indah dipandang.

Senada dengan Ghazanfar, Delegasi OKI asal Tunisia, Hanem menyatakan batik Indonesia pantas menjadi warisan budaya yang diakui dunia internasional, karena bahan dan motifnya cocok digunakan oleh semua masyarakat di dunia.

"Sangat mengagumkan, Indonesia pasti bangga memiliki batik di negaranya," ujar Hanem.

Hal serupa juga disampaikan Delegasi OKI asal Djibouti selaku Direktur Urusan Gender, Choukri Houssein. Menurutnya, batik Indonesia memang menawan, namun harganya terbilang cukup mahal.

"Kualitasnya baik sekali, tapi bagi kami harganya sangat mahal," kata Choukri serata tersenyum.

Sementara itu, Delegasi asal Mozambik, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Sosial Budaya Mozambik Iolanda Cintura, mengungkapkan rasa kagumnya kepada para perempuan pembatik Indonesia. Mereka, lanjut Iolanda, adalah wanita hebat yang mampu membuat produk berkualitas dan dapat memberikan pemasukan bagi keluarga.

"Pembatik perempuan di Indonesia sangat bagus, karena dengan keahliannya, mereka dapat membantu perekonomian keluarga," kata Iolanda.

Iolanda menambahkan, dengan membantu perekonomian keluarga, para pembatik perempuan juga dapat membantu pertumbuhan ekonomi pemerintah, karena telah mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah domestik.

Sejak menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia, UNESCO mengakui Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia. Mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Berbagai corak Batik Indonesia menandakan adanya berbagai pengaruh dari luar mulai dari kaligrafi Arab, burung phoenix dari China, bunga cherry dari Jepang sampai burung merak dari India atau Persia. (RIZ)
TENUN IKAT KAOS KEDIRI Jersey
Info Lengkap